Gelombang Protes Besar di Turki, Apa yang Menjadi Pemicunya?
Penangkapan Ekrem Imamoglu, Wali Kota Istanbul yang juga merupakan pesaing kuat Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, telah memicu demonstrasi besar-besaran dan menambah kekhawatiran internasional tentang kondisi demokrasi di negara tersebut. Imamoglu, yang berasal dari Partai Rakyat Republik (CHP) oposisi, telah lama dianggap sebagai saingan utama Erdogan.
Pada 23 Maret, Imamoglu resmi didakwa dengan tuduhan korupsi dan memberikan dukungan pada kelompok teroris. Penahanan ini memicu unjuk rasa di berbagai kota di Turki, dengan pengunjuk rasa menganggap langkah ini berbau politis. Imamoglu sendiri menyatakan di media sosial bahwa penahanannya adalah sebuah serangan terhadap kehendak rakyat, dan menegaskan bahwa rakyat adalah pihak yang harus dipercaya dalam situasi ini.
Sejak penangkapan Imamoglu, ribuan demonstran turun ke jalan, meskipun ada ancaman penangkapan dan bentrokan dengan polisi. Meskipun beberapa protes berlangsung damai, terjadi juga eskalasi kerusuhan yang melibatkan penggunaan gas air mata dan peluru karet oleh aparat keamanan. Banyak demonstran menuntut demokrasi dan kebebasan memilih, serta mengkritik penahanan tokoh oposisi yang dianggap tidak adil.
Penahanan Imamoglu juga mencuatkan isu tentang kelanjutan pencalonannya sebagai calon presiden pada 2028, meskipun terdapat tantangan hukum yang mungkin menghalanginya. Selain itu, pemerintah Turki membantah bahwa penangkapan tersebut bermotif politik dan menyatakan bahwa pengadilan negara berjalan secara independen.
Protes-protes ini turut melibatkan banyak mahasiswa yang tumbuh di bawah pemerintahan Erdogan selama lebih dari dua dekade. Mereka merasa hak mereka untuk memilih pemimpin yang diinginkan telah dirampas. Pemerintah Erdogan, di sisi lain, menilai demonstrasi ini sebagai tindakan yang mengganggu ketertiban umum.