Peringatan AS: Jangan Balas Tarif Baru Jika Tak Ingin Eskalasi
Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, memberikan saran kepada negara-negara yang terkena dampak kebijakan tarif impor baru untuk tidak membalas tindakan tersebut. Dalam wawancara dengan Fox News, Bessent menekankan bahwa negara-negara yang terdampak sebaiknya tidak tergoda untuk membalas, karena hal itu hanya akan memperburuk ketegangan yang sudah ada. Sebagai gantinya, ia menyarankan agar negara-negara tersebut bersikap pasif dan memantau situasi terlebih dahulu sebelum membuat keputusan lebih lanjut.
Pemerintah AS, melalui Gedung Putih, mengumumkan bahwa mulai 5 April 2025, mereka akan menerapkan tarif impor sebesar 10 persen terhadap seluruh barang asing. Tarif lebih tinggi akan dikenakan kepada negara-negara yang memiliki defisit perdagangan terbesar dengan AS, yang akan mulai berlaku pada 9 April 2025. Namun, beberapa barang yang dianggap krusial bagi sektor manufaktur dan keamanan nasional, seperti baja, aluminium, semikonduktor, otomotif, serta beberapa mineral dan produk lainnya, akan dikecualikan dari kebijakan tarif ini.
Presiden Donald Trump juga memiliki wewenang untuk meningkatkan tarif tersebut jika negara mitra dagang memutuskan untuk melakukan tindakan balasan terhadap AS. Kebijakan ini bertujuan untuk memperkuat ekonomi domestik Amerika Serikat, namun juga berpotensi memicu ketegangan dalam perdagangan global. Berbagai negara kini tengah mempertimbangkan langkah terbaik yang harus diambil untuk merespons kebijakan tarif ini, yang dapat berdampak signifikan terhadap ekonomi internasional.