Gaza Terkepung, UNRWA Tuding Israel Jadikan Bantuan Kemanusiaan Senjata Perang
Kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, mengungkapkan kekhawatirannya atas kondisi kemanusiaan yang memburuk secara drastis di Jalur Gaza. Dalam pernyataannya pada Kamis, 3 April, ia menuduh Israel menggunakan bantuan makanan dan logistik sebagai alat perang dalam konflik yang masih berlangsung. Lazzarini menyebut bahwa selama lebih dari sebulan, Gaza berada dalam keadaan pengepungan total, di mana pasokan penting seperti makanan, obat-obatan, dan bahan bakar sama sekali tidak diperbolehkan masuk oleh otoritas Israel. Ia menilai tindakan tersebut sebagai bentuk hukuman kolektif yang memperparah penderitaan warga sipil. Menurutnya, kelaparan dan keputusasaan kini menyelimuti seluruh wilayah, dengan sistem kehidupan sipil perlahan runtuh akibat tekanan dan pembatasan ekstrem. Lazzarini juga menyoroti bahwa masyarakat Gaza telah terlalu lama hidup dalam kurungan di wilayah sempit yang penuh dengan ketidakpastian. Ia mendesak pembukaan akses bantuan kemanusiaan secepatnya dan penghentian pengepungan yang dinilai tidak berperikemanusiaan. Sejak 2 Maret, seluruh jalur perbatasan ditutup total oleh Israel, memicu krisis kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Laporan dari lembaga HAM internasional serta badan-badan PBB turut mengonfirmasi kondisi tragis ini. Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan niat untuk meningkatkan serangan, beriringan dengan rencana relokasi warga Palestina. Hingga kini, lebih dari 50.500 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak, dilaporkan tewas sejak serangan dimulai pada Oktober 2023. Israel juga tengah menghadapi tuduhan genosida di Mahkamah Internasional dan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu serta mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant dari Mahkamah Pidana Internasional.